Seputarmaluku.com
– Pernahkah kau merasa jebakan di tengah pembicaraan yang hanya dipengaruhi oleh kata-kata, narasi, dan sudut pandang seseorang? Sangatlah susah mencari celah atau momen bagi kita untuk dapat membagikan pemikiran pribadi dalam diskusi tersebut.
Mengherankan, banyak pihak yang umumnya memimpin pembicaraan justru tak sadar akan pengaruh tindakan mereka terhadap orang-orang di lingkungan sekitarnya. Jadi kemungkinan besar mereka merasa bahwa dialog tengah berlangsung dengan baik, ringkas, dan setiap peserta menikmati perbincangan bermutu tersebut.
Menurut Geediting.com pada Senin (21/4), terdapat beberapa perilaku umum yang secara tidak sadar sering dilakukan oleh orang-orang yang suka mengambil alih pembicaraan sehari-hari.
1. Sering Menyela Pembicaraan
Salah satu indikasi utama yang terlihat adalah perilaku mencubit ucapannya orang lain sebelum mereka bisa menuntaskan pemikirannya dengan lengkap. Kebiasaan ini biasanya disertai oleh dorongan besar untuk langsung melontarkan pendapat, gagasan, atau kisah pribadi sendiri tanpa mau repot-repot menunggu hingga giliran benar-benar tiba.
2. Seringkali Tidak Menanyakan Kembali Tentang Diri Sendiri
Inti dari tiap percakapan verbal untuk kelompok tersebut biasanya tertuju pada diri mereka sendiri, pencapaian yang disombongkan, atau momen-momen hidup yang amat signifikan bagi individu-individu itu. Terdapat kurangnya minat sejati ataupun penasaran ditampilkan lewat pertanyaan-pertanyaan khusus tentang situasi dan emosi Anda saat ini.
3. Menyambungkan Setiap Subjek Kembali pada Diri Masing-masing
Tidak peduli apa topik menarik yang sedang menjadi perbincangan, mereka selalu mampu mencari cara brilian untuk menyambungkannya kembali ke cerita atau pengalaman pribadi mereka. Semua kontribusi ide, opini, atau kisah dari orang lain tampaknya hanya bertindak sebagai peluruksi bagi mereka untuk memulai monolog panjang tentang dirinya sendiri.
4. Berbicara sangat lama layaknya monolog
Mereka dapat mengontrol seluruh proses pembicaraan dalam waktu yang sangat panjang tanpa memberi kesempatan kepada peserta lain untuk menyela dengan baik. Arus dialog ini juga cepat berubah menjadi sebuah penyampaian satu sisi dimana salah satunya terus-menerus bicara dan tidak ada tukar-menukar pikiran secara merata diantara para individu tersebut.
5. Menjaga Ketenangan Sendiri Tanpa Memedulikan Usaha orang Lain
Jika suatu saat nanti tersedia kesempatan bagi pihak lain untuk berbicara dan membagi pemikiran, sumbangan mereka kerap kali mendapat sedikit penghargaan atau malah tampak disepelekan. Mereka cenderung hanya menambahkan catatan pendek yang dangkal serta tak sesuai topik sebelum secara instan mengembalikan pusat perhatian ke pokok pembicaraan yang menjadi prioritas utama mereka.
6. Mengabaikan Sinyal Non-Verbal
Indikasi nonverbal lawan bicara seperti tatapan mata yang menunjukkan ketidaksenangan, posisi badan yang semakin canggung dan tak enak, atau gerakan halus mencoba mengucek mulut kerap kali dilewatkan sama sekali oleh perhatian mereka. Terlampau asyik dengan hasrat ingin bercerita serta arus pemikirannya sendiri membuat mereka gagal menyimak petunjuk-petunjuk vital dari tindakan tubuh orang-orang di sekelilingnya.
7. Tetap Pendapatnya yang Tepat Adalah Yang Terbaik
Pada saat terlibat dalam pembicaraan di mana ada perspektif yang beragam atau mungkin timbul perdebatan halus, mereka lebih condong untuk merasa sangat percaya bahwa cara berpikir atau pengalaman miliknya lah yang paling benar dan layak dipertimbangkan. Kecendrungan ini sering kali disebabkan oleh keyakinan teguh akan kebenaran absolut dari sudut pandang dirinya sendiri sehingga cukup sukar bagi mereka untuk menyisihkan waktu memahami atau menilai positif tentang opini orang lain yang juga memiliki alasan dan maknanya tersendiri.
8. Bersikap Bertahan saat Diinterupsi atau Ditantang
Ketika usaha kecil dilakukan untuk menggagalkan atau mempertanyakan pendapat mereka, respons yang muncul biasanya tampak keras dan sangat bertahan diri. Mereka dapat merespons dengan nada suara meningkat atau argumentasi yang kaku seolah-olah sedang dihujat secara personal oleh lawan bicaranya dalam dialog tersebut.
Menguasai pola tingkah laku unik ini dapat memberikan pemahaman berharga tentang alasan mengapa sejumlah pertukaran verbal kadang tampak timpang, melelahkan, atau tak memuaskan untuk beberapa pihak. Seseorang yang mendominasi pembicaraan umumnya bukan berniat buruk atau dengan sengaja melakukan hal tersebut; mereka sekadar kurang sadar akan dampak dari cara bicaramenurunkan iklim diskusi yang setara bagi individu lain dalam obrolan itu secara luas.
