Orang yang Pakai Katas kata Besar Agar Keliatan Pinter? Psikolog Ungkap 7 Sifat Unik Mereka

Spread the love



Di dalam keseharian, tentu kita sudah sering kali menjumpai orang-orang yang gemar memakai perkataan besar, terminologi teknikal, atau gaya bicara kompleks, seperti mereka hendak menyuarakan derajat kepintaran yang luhur.

Walau sering kali dipandang sebagai indikator kebijaksanaan, ilmu psikologi malah menemukan bahwa perilaku ini sebenarnya dapat mencerminkan aspek-aspek tertentu dari karakter seseorang serta dorongan yang mendasarinya.

Di belakang kecenderungan menggunakan kalimat berani, tersimpan ciri khas yang biasanya tak kelihatan tapi bisa diidentifikasi apabila diteliti secara mendalam.

Berdasarkan laporan dari Geediting pada hari Sabtu (17/5), ada tujuh karakteristik tertentu yang umumnya ditampilkan oleh individu yang cenderung memakai istilah rumit untuk tampak lebih cerdas sesuai dengan studi dalam bidang psikologi tersebut:


1. Kebutuhan Akan Pengakuan

Seseorang yang suka menggunakan kata-kata sulit biasanya memerlukan pengakuan intelektual dari pihak lain dengan sangat.

Meraka berpikir bahwa dengan mengunakan istilah-istilah jarang digunakan, mereka akan mendapat penghargaan, rasa hormat, atau malahan di anggap lebih unggul.

Psikologi menganggap hal ini sebagai bagian dari pengelolaan kesan, yang melibatkan upaya sengaja maupun tidak sengaja dalam pembentukan gambaran diri tertentu ketika berhadapan dengan orang lain.


2. Kekurangan Percaya Diri yang Tersimpan

Ironicnya, menggunakan kata-kata yang terkesan besar dapat mengimbangi perasaan kurang percaya diri.

Walaupun tampilan luarnya nampak percaya diri dan cerdas, sebagian orang memilih untuk menggunakan bahasa yang kompleks karena khawatir akan diremehkan apabila berbicara dengan cara yang mudah dipahami.

Berdasarkan konsep kompleks inferioritas oleh Alfred Adler, orang yang merasa kurang percaya diri biasanya menyembunyikan ketidaksempurnaan tersebut dengan memamerkan kekuatan berlebihan, termasuk lewat ucapannya.


3. Kecenderungan Perfeksionistik

Orang yang perfeksionis biasanya menghendaki penampilan “ideal” di semua aspek, termasuk saat berinteraksi dengan orang lain.

Meraka berpandangan bahwa dengan mengunakan terminologi saintifik atau akademis dapat mencerminkan pemahaman mendalam mereka tentang sebuah subjek.

Meski dalam keadaan normal sekalipun, mereka dapat memasukkan terminologi teknis untuk tetap menjaga citra ketangguhan intelektualnya.


4. Gaya Komunikasi Utama

Menggunakan istilah yang terlalu bombastik dapat pula mencerminkan perilaku mendominasi dalam sebuah dialog.

Orang semacam itu mungkin cenderung “menguasai” jalannya percakapan atau menyuarakan bahwa mereka memiliki wawasan yang lebih luas dibandingkan dengan orang lain.

Hal ini terkait dengan ide dominansi lisan, di mana seorang individu mencoba untuk menjadi pusat perhatian dalam percakapan dengan mengacaukan lawan bicaranya menggunakan istilah-istilah jarang digunakan.


5. Kepekaan Terhadap Pendapat Orang Lain

Dalam perspektif psikologi sosial, individu yang sangat khawatir tentang persepsi orang lain mengenai dirinya biasanya akan berupaya ekstra untuk mencapai harapan-harapan itu.

Satu cara adalah dengan menunjukkan bahwa mereka lebih cerdas dari rata-rata, serta menggunakan istilah-istilah yang rumit sebagai sarana untuk membuat orang percaya bahwa mereka layak mendapat respek atau tiruan.


6. Keinginan untuk Diakui secara Intelektual lebih Kuat dari pada Keinginan untuk Dimengerti

Banyak di antara mereka lebih mengutamakan penampilan suara mereka dibandingkan dengan pemahaman pesan yang disampaikan.

Mereka mampu mengobrol menggunakan bahasa ilmiah yang rumit, namun tak perduli apabila lawan bicaranya kebingungan.

Hal ini mengindikasikan bahwa dorongan terbesar mereka berasal dari keinginan untuk diakui sebagai individu “cerdas,” daripada fokus pada pembentukan komunikasi yang efisien dan transparan.


7. Cenderung Bergantung Berlebih pada Simbolisme

Menggunakan istilah-istilah yang bombastis dapat menunjukkan adanya kecenderungan simbolik yang kuat, di mana individu tersebut memberikan nilai penting terhadap aspek-aspek berbobot secara simbolik, misalnya pangkat, derajat sosial, ataupun frasa-frasa ilmiah.

Mereka berpendapat bahwa dengan menggunakan bahasa yang lebih formal dapat meningkatkan status sosial mereka dimata orang lain.

Hal ini sesuai dengan teori pemenuhan diri berdasarkan simbolik, di mana seseorang berusaha mengembangkan gambaran dirinya lewat lambang-lambing luar.


Penutup: Apakah Selalu Negatif?

Perlu diingat kembali bahwa mengunakan istilah-istilah besar bukanlah suatu hal negatif secara mutlak.

Dalam lingkungan kerja atau pendidikan, menggunakan terminologi teknis maupun formal tentunya dapat menjadi pilihan yang tepat serta dibutuhkan.

Akan tetapi, apabila tindakan tersebut hanya bertujuan agar tampak lebih cerdas, serta tidak mempertimbangkan pendengar atau keefektifan percakapan, maka hal ini dapat menghambat interaksi sosial maupun karier Anda.

Komunikasi yang bagus tidak tergantung pada betapa rumitnya pilihan kata, melainkan sejauh mana pesan dapat dimengerti dan diserap oleh pihak lain.

Pada berbagai situasi, kecenderungan untuk mengomunikasikan gagasan dengan sederhana merupakan indikator nyata dari ketajaman intelektual yang terbukti.

Apabila Anda menemukan salah satu dari tujuh ciri tersebut pada diri sendiri ataupun pada orang di sekeliling Anda, jangan buru-buru untuk menghakiminya.

Mengetahui alasan di balik motivasi dalam berkomunikasi merupakan tahap pertama menuju perjalanan menjadi penyampai pesan yang lebih efektif dan diri yang lebih jujur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *