Seputarmaluku.com
– Hidup kita berada dalam era yang sangat cepat dan praktis. Sehingga ketika pesan kita tidak segera mendapat respon, pikiran pun menjadi khawatir: “Mengapa dia belum membalas?” “Bisa jadi aku mengganggu?” “Atau malah saya diabaikan?”
Perasaan khawatir ini dapat timbul dalam berbagai macam wujud, serta umumnya terdapat pola tingkah laku tertentu yang keluar.
Kalau kamu merasa
relate,
Bisa jadi Anda termasuk dalam tim yang bertanggung jawab untuk mengelola pesan tersebut, seperti dilansir dari Geediting, Minggu (20/4).
Namun jangan khawatir, menyadari tentang kebiasaan ini merupakan tahap pertama dalam menyelesaikannya. Mari kita uraikan satu per satu tingkah laku khas orang yang selalu dihantui rasa cemas karena pesan yang tidak kunjung dibalas.
1. Mengecek ponsel terus-terusan
Ponsel mungkin berada di atas meja, tetapi pandangan kita selalu tertuju padanya. Bahkan jika layar hanya menampilkan cahaya yang redup, tangan sudah meraihnya segera. Namun ketika tidak ada pemberitahuan darinya—kita menjadi panik, gugup, dan stres.
Pengguna yang khawatir tentang respons pesan biasanya sangat sering memeriksa ponselnya. Mereka tidak hanya sekadar melihat layar sebentar, tetapi juga terus-menerus membuka aplikasi untuk mengecek apakah pesannya telah dibaca sepenuhnya atau baru diterima oleh pengirim.
Habit ini mungkin tampak remeh, tetapi sebenarnya membuat kita semakin cemas. Kita pun selalu berada dalam status “menunggu persetujuan” yang pada akhirnya membuat pikiran menjadi lelah.
2. Mikirin skenario terburuk
Pernah mengirim pesan kepada seorang teman tapi tidak mendapatkan balasan, dan kemudian pikiran Anda langsung beralih ke berbagai hal? “Apakah ada yang saya katakan yang salah?” “Mungkin dia sedang kesal?” “Bisa jadi ada masalah dengannya?”
Itu tadi — kecenderungan untuk memvisualisasikan situasi terburuk yang bisa saja terjadi. Hal ini umumnya dialami oleh mereka yang memiliki kekhawatiran berlebihan, khususnya ketika hal tersebut berkaitan dengan orang-orang penting atau masalah yang sensitive.
Sebenarnya, mungkin saja dia sedang asyik dengan kesibukan, baterai ponselnya habis, atau bahkan cuma lupaan cek pesan. Namun pikiran kita sudah terlanjur membuat skenario dramatis dalam benak kita.
3. Selalu mencari kejelasan dari orang lain
Jika Anda pernah bertanya kepada teman-teman seperti “Menurutmu saya bicara dengan keliru tidak?” atau “Saya rasa dia pasti kesal,” sesudah mengirim pesan, itu artinya Anda termasuk dalam golongan ini. Kita sangat ingin mendengar seseorang berkata, “Tidak lah, engkau tidak melakukan kesalahan apa pun,” agar pikiran kita menjadi lebih damai.
Sekali-kali jika hal ini berlanjut terus menerus, kita akan menjadi sangat bergantung pada orang lain untuk mengurangi perasaan tidak aman kita. Namun sebenarnya, hanya diri kita sendirilah yang dapat menenangkan pikiran kita.
4. Sulit untuk berkonsentrasi pada hal lain
Pernah mengalami saat sedang menyelesaikan pekerjaan rumah atau proyek penting, namun pikiran tidak bisa dilepaskan dari pertanyaan “mengapa dia belum membalas pesanku”? Meski tangan masih bekerja di keyboard, mata tetap terus melirik hp. Konsentrasi menjadi berkurang dan tingkat stres semakin meninggi.
Inilah salah satu dampak dari kecemasan akan adanya pesan masuk. Kita menjadi tidak sepenuhnya fokus pada saat ini karena selalu memikirkan notifikasi yang belum kunjung datang.
Tahap pertama untuk mengatasinya adalah dengan menyadari jika Anda sedang terganggu, lalu perlahan-lahan coba konsentrasikan diri pada aspek-aspek yang dapat dikendalikan saat ini.
5. Sangat merasa terbebas setelah menerima respon tersebut
Pernah mengalami rasa lega seperti bisa bernafas lebih ringan ketika mendapat notifikasi respons? Hal tersebut sering dialami banyak orang, contohnya saat mereka menantikan respon terkait pekerjaan yang signifikan. Ketika notifikasi tersebut akhirnya tampil, seolah-olah beban berat 10 kg hilang dari dadamu.
Perasaan tenang ini menggambarkan dampak yang kuat sebuah pesan memiliki pada emosionalitas kita. Namun, penting pula untuk melakukan introspeksi: mengapa satu percakapan singkat dapat memengaruhi mood kita dengan cara seperti itu?
Mengingat hal itu, kita dapat memulai untuk mengendalikan emosi dan tidak mudah terpengaruh oleh notifikasi.
6. Memeriksa Kedalaman Konten Balasan Berlebihan
Sudah ada balasannya, tetapi perasaan khawatir masih belum hilang. Mari kita maju ke bab berikutnya yaitu bagian kedua dari overthinking. Kita akan memerhatikan setiap kata, tanda baca, termasuk emoji dengan seksama. “Mengapa dia menggunakan titik? Apakah dia marah?” Atau mungkin “Kenapa begitu pendek? Mungkinkah sedang malas untuk mengobrol?”
Permasalahannya adalah bahwa teks tersebut kurang memiliki ekspresi. Kita tidak dapat merasakan nada atau intonasi darinya.
tone
Suara atau melihat ekspresi wajah, sehingga maknanya kerap kita interpretasikan secara pribadi.
Sebelum pikiranmu semakin kacau, cobalah untuk mengambil nafas dalam-dalam. Jika ada hal-hal yang membuatmu tidak nyaman, sebaiknya bicarakan secara langsung bukan malah menduga-duga terus-menerus.
7. Mencoba Untuk Mengambil Kembali Kontrol
Secara umum, ketakutan tentang pesan yang dikirim timbul dari perasaan kehilangan kendali. Setelah menekan “kirim”, seluruh pengendalian berpindah ke orang yang menerimanya.
Jadi seringkali kita melakukena kejadian seperti mengirim pesan dua kali, mengirimin pengecekan tambahan, atau sengaja membalas lambat agar tampak tidak terlalu bergantung.
Namun pada dasarnya, satu-satunya hal yang dapat kita kontrol adalah reaksi kita sendiri. Alih-alih membuang energi untuk mencoba mengendalikan sesuatu di luar jangkauan kita, akan lebih bijaksana jika kita berkonsentrasi pada aspek yang bisa dikontrol—yakni bagaimana cara kita merespons suatu kondisi.
Penutup: Kembali kepada Ketuhanan Diri Sendiri
Jika diamati dari perspektif psikologis, respons kita terhadap hal-hal “kecil” semacam pesan yang belum dijawab dapat berhubungan dengan karakter pribadi, tingkat kekhawatiran, serta hingga rasa takut tertinggal (FOMO) dalam konteks sosial.
Menurut Dr. Larry Rosen dari California State University, ketertarikan kita pada komunikasi instan dapat menyebabkan perasaan khawatir tertinggal dan meningkatnya kegelisahan jika tidak mendapatkan respons sesegera yang diharapkan.
Maka, jika Anda merasakan keterkaitan dengan poin-poin yang disebutkan tadi, ingatlah bahwa hal ini tidak hanya tentang pesan teks saja. Yang terpenting adalah cara Anda memahami diri sendiri, menetapkan harapan, serta meningkatkan kesadaran diri.
Tindakan ini bukanlah hal yang buruk. Ia merupakan respon alami bagi manusia dalam zaman digital. Namun, dengan pemahaman yang baik, kita dapat mempelajari bagaimana cara bersantai tanpa terikat pada pemberitahuannyaponsel.
Pada akhirnya, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah pepatah: “Langkah awal menuju transformasi adalah pemahaman diri.”
