Seputarmaluku.com
– Pernakah kau merasa begitu letih cuma dengan menentukan pilihan diantara dua perkara mudah seperti hendak mengkonsumsi apa untuk berbuka puasa atau kaos apalah yang bakal dipakai?
Bila benar demikian, mungkin Anda tengah merasakan lelah psikologis akibat pola perfeksionisme tanpa disadarinya.
Perfeksionisme kerap dianggap salah paham sebagai ciri baik yang mendorong seseorang agar memberikan hasil terbaiknya.
Akan tetapi, di berbagai kesempatan, perfeksionisme malah sering kali menghalangi kemajuan terhadap kebahagiaan, produktivitas, serta kesejahteraan mental.
Pilihan-pilihan bahkan yang sederhana di kehidupan sehari-hari dapat dirasakan sebagai keputusan penting yang melelahkan.
Berdasarkan artikel di Small Biz Technology pada hari Senin, tanggal 21 April, menurut pengetahuan psikologis, individu yang sering merasa letih secara mental akibat keputusan sepele umumnya mengalami 7 tanda perilaku perfeksionis sebagai berikut:
1. Ketakutan Terhadap Kecelakaan Bahkan Yang Paling Kecilpun
Seringkali, perfeksionis merasa bahwa semua keputusan harus sempurna.
Mereka tidak ingin menyesal.
Meskipun dihadapkan pada pilihan antara dua hal yang setaraf dalam kualitas, ketakutan akan kesalahan dalam pengambilan keputusan dapat menyebabkannya mengalami kelumpuhan mental.
Sehingga, otak mereka selalu beroperasi dalam mode prediksi skenario negatif apa saja yang muncul dari tiap-tiap opsi, menghasilkan keletihan psikis yang sangat kuat.
Di lingkungan yang menuntut sempurna, setiap kelalaian sekecil apapun dirasakan sebagai kiamat mini.
2. Pikiran Serba Atau Tak Ada sama Sekali (Black-and-White Thinking)
Perfektionis sering kali terperangkap dalam cara berpikir yang ekstrim—semua hal mesti sempurna, atau tidak ada artinya.
Pilihan yang sederhana juga dilihat dari perspektif ini: apakah ini adalah pilihan terbaik, atau tidak?
Hal ini menyebabkan mereka kesulitan untuk merasa cukup dan terus-menerus berpikir tentang kemungkinan adanya opsi yang lebih unggul di tempat lain.
Tidak ada tempat untuk “cukup baik”—harus selalu menjadi yang terbaik.
3. Terus Menerus Banding-bandingkan Diri Sendiri dengan orang Lain
Untuk para perfeksionis, standarnya umumnya bukan berasal dari diri sendiri melainkan dipengaruhi oleh faktor eksternal—apa yang dilakukan, dimiliki, atau dicapai orang lain.
Keputusan meskipun sekecil apapun dapat menjadi titik banding: “Teman saya memilih restoran yang lebih trendy,” atau “Pastinya orang lain tampak lebih gaya menggunakan pakaian ini daripada saya.”
Pembandingan yang konstan ini semakin menyebabkan keletihan karena otak tak hentinya melakukan penilaian.
4. Terlalu Memikirkan dan Menganalisis Semua Aspek
Tidak cuma keputusan penting, namun pilihan sepele seperti menentukan tipe minuman atau mencari jalur terpendek menuju kantor juga dapat berubah jadi pertarungan batin yang kompleks.
Perfeksionis biasanya terlalu banyak mempertimbangkan berbagai aspek—merenungkan semua opsi, meramalkan akibatnya, mengukur untung-ruginya—sampai mereka melupakan kebahagiaan dalam menjalani hari.
Setiap pilihan menjadi misteri kompleks yang harus diselesaikan dengan sempurna, meskipun sebenarnya tidak perlu demikian.
5. Standar Ketinggian yang Tidak Rasional
Seorang perfeksionis mensyaratkan ekspektasi sangat tinggi bagi dirinya sehingga mayoritas keputusan dianggap kurang memadai.
Mereka berharap mendapatkan hasil yang istimewa meski untuk pilihan-pilihan terkecil, dan saat tak sesuai ekspektasi, mereka sering bersalah atas kesalahan sendiri.
Hasrat untuk mencapai kesempurnaan menyebabkan mereka menganggap diri mereka gagal, meskipun pada kenyataannya mereka telah sukses.
6. Selalu Mencari Persetujuan dari Luar Non-Stop
Orang yang memiliki pola pikir perfeksionis cenderung kurang percaya pada keputusan mereka sendiri.
Mereka mengajukan persetujuan kepada orang lain bahkan untuk urusan sepele seperti: “Menurut kamu yang mana lebih baik?” “Apakah ini sudah menjadi keputusan yang benar?”
Ketergantungan pada persetujuan luar negeri tersebut menyebabkan tahap pengambilan keputusan menjadi sangat menguras energi.
Perfeksionis biasanya memerlukan persetujuan oranglain agar bisa merasa tenang.
7. Kesulitan Mengampuni Diri Sendiri karena Keputusan yang Tidak Baik
Meski sudah membuat keputusan, perfeksionis tetap menghabiskan waktunya untuk merenung: “Seharusnya saya pilih opsi lain,” atau “Mengapa saya bisa sebodoh itu?”
Mereka menimbun terlalu banyak rasa sesal, termasuk untuk pilihan sederhana yang sebetulnya tak memiliki konsekuensi signifikan.
Inilah lingkaran tak berkesudahan dari keletihan mental.
Untuk orang yang sangat perfeksionis, sebuah kekeliruan dapat mengaburkan seluruh harinya.
Kesimpulannya: Perfeksionisme Sangat Menyita Energi, Akan Tetapi Dapat Ditangani
Apabila Anda mengalami rasa letih akibat pengambilan keputusan yang sepele, bisa jadi sudah waktunya memeriksa kembali cara berpikir Anda.
Perfeksionisme bukan selalu berkaitan dengan mencapai standar tinggi—terkadang hal itu malah menjadi perangkap psikologis yang menyulitkan kehidupan sehari-hari.
Untungnya, ini bisa diubah.
Dengan memahami kebiasaan-kebiasaan perfeksionis di dalam diri Anda, Anda dapat mulai menurunkan bebannya.
Pelajari cara berkata, “Ini sudah cukup bagus.” Beri ruang bagi kegagalan. Kenali bahwa tak setiap pilihan perlu dianalisa dengan detail.
Yang paling penting adalah belajar untuk mengampuni diri sendiri.
Kehidupan bukanlah soal mengambil keputusan yang selalu tepat, tapi tentang cara Anda dapat tetap tenang meski berada dalam situasi yang kurang ideal.
