Pemerintah Singapura serta Malaysia meluncurkan Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapore (SEZ) untuk meningkatkan kolaborasi antar kedua negeri guna merespons ketidaktentuan global yang disebabkan oleh keputusan tariff dari Amerika Serikat (AS).
Wakil Perdana Menteri Singapura, Gan Kim Yong, menyampaikan hal tersebut dalam sebuah acara bisnis yang berlangsung di Persada Johor International Convention Centre, Senin (21/4).
Menurut Gan, SEZ ini membuka kesempatan bagi bisnis untuk menguatkan jaringan pasokannya walaupun terdapat kebijakan proteksionis yang diimplementasikan oleh Presiden AS Donald Trump.
“Kerjasama SEZ ini memungkinkan negara-negara yang memiliki minat serupa bisa berkolaborasi guna menangani tantangan serta mewujudkan kemanfaatan bersama,” ungkap Gan dalam sambutannya seperti dilaporkan Channel News Asia pada hari Senin (21/4).
Wilayah ekonomi ini berencana untuk menggairahkan investasi dalam 11 bidang, yakni industri pengolahan, sistem distribusi, kedaulatan pangan, pariwisata, sumber daya energi, ekonomi digital, ekonomi ramah lingkungan, jasa keuangan, jasa bisnis, pendidikan, serta kesehatan.
SEZ ini akan menutupi wilayah seluas 3.571 kilometer persegi di bagian selatan Johor, dengan sembilan zona utama yang setiap satu fokusnya adalah sektor ekonomi tertentu.
SEZ Sebagai Jawaban untuk Rantai Pasokan
Bro menyatakan bahwa zona perdagangan bebas ini muncul pada saat yang amat strategis, membuka peluang untuk pertumbuhan usaha serta menguatkan jaringan pasok antar dua negara tersebut.
Dalam kondisi ketidaktentuan dunia secara keseluruhan serta adanya peningkatan kecenderungan terhadap politik proteksi domestik, kawasan SEZ ini menawarkan peluang kepada perusahaan agar dapat bersaing dan berkembang dengan optimal.
“Krisis selalu menghadirkan kesempatan. Bisnis yang mampu bersikap fleksibel dan merespons pergeseran ini akan menemui celah baru,” ungkap Gan.
Dia juga menunjukkan bahwa proyek kolaboratif, seperti pertanian vertikal di dalam gedung yang diciptakan oleh perusahaan agritech dari Singapura bernama Archisen, serta anak perusahaaan Johor Corporation yaitu FarmByte, merupakan bukti konkret.
Proyek ini membuktikan bahwa SEZ mampu menyatukan berbagai macam sektor serta memfasilitasi perkembangan usaha meski dalam kondisi ketidakstabilan ekonomi dunia.
Penyegaran Struktur Fisik dan Tata Kelola Usaha
Dalam upaya memperkokoh zona perdagangan khusus tersebut, Gan menegaskan bahwa pihak berwenang di Singapura bertekad untuk mendorong pertukaran barang dan orang antara Singapura dan Johor dengan cara merampingkan tahapan inspeksi serta aturan kepabeanan.
Negara-negara tersebut juga berencana untuk mempercepat tahap persetujuan, menambah investasi pada pembangunan kapabilitas tenaga kerja, serta menciptakan layanan terpadu untuk mendukung perusahaan-perusahaan.
“Pemerintah Singapura dan Malaysia bertekad menguatkan dasar-dasar SEZ melalui peningkatan konektivitas dan perizinan bisnis yang lebih mudah, hal ini akan menciptakan lebih banyak kesempatan investasi,” ungkap Gan.
Untuk membantu perusahaan di Singapura yang berminat mengembangkan bisnisnya di wilayah tersebut, Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura beserta dengan Enterprise Singapore dan Singapore Economic Development Board (EDB) akan menetapkan kantor proyek bersama.
Kantor ini akan menyokong Invest Malaysia Facilitation Centre–Johor (IMFC-J), pusat fasilitas yang telah dibangun oleh pemerintah Malaysia. IMFC-J resmi berfungsi pada akhir bulan Februari lalu di lokasi Forest City.
Menteri Besar Johor Onn Hafiz menggambarkannya sebagai sentral fasilitas komprehensif yang memberikan bantuan konsultatif untuk urusan bisnis kepada perusahaan-perusahaan yang berniat investasi di area zona ekonomi spesial tersebut. Kantor ini menjadi lokasi perdana diluar Wilayah Klang yang merancang pelayan serupa.
Zona Industri ASEAN dan Aturan Sandbox
Di samping itu, pemerintah Johor telah mengusulkan dua ide segar guna memperkokoh SEZ. Salah satunya adalah pembuatan Kawasan Industri ASEAN di dalam area tersebut, dengan tujuan utamanya meliputi bidang produksi berbasis teknologi tinggi, industri ramah lingkungan, serta ekosistem digital.
Area industri ini dirancang untuk mengundang dana asing dari negara-negara yang menjadi bagian dari Perjanjian Ekonomi KerjasamaRegional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), sekaligus mempromosikan pertukaran teknologi dan peningkatan kemampuan bersaing wilayah ASEAN.
Kelompok RCEP terdiri dari semua 10 negara anggota ASEAN beserta dengan keenam mitranya dalam bidang perdagangan yaitu Australia, China, Japan, Korea Selatan, dan New Zealand.
“Selain itu, kami mengharapkan bahwa area industrial ini bisa memberikan insentif spesial, misalnya pengurangan pajak serta mempermudah perpindahan tenaga kerja dan melonggarkan prosedur repatriasi modal guna menarik minat para investor asing,” jelas Onn Hafiz.
Di samping itu, Johor memiliki rencana untuk membentuk Johor Regulatory Sandbox, sebuah area adaptif guna mengevaluasi teknologi, peraturan, serta konsep bisnis baru, terutama dalam bidang-bidang yang dibatasi oleh hukum saat ini, seperti fintech dan energi terbarukan.
