7 Tanda Orang Sedang Menyembunyikan Kecemasan Mereka dengan Mengatakan “Aku Baik-Baik Saja” Menurut Ilmu Psikologi

Spread the love


Seputarmaluku.com

– Pernahkah kamu menemui orang yang senantiasa tersenyum lalu mengucapkan “Saya baik-baik saja” padahal kamu menduga ada hal-hal kurang tepat dengan situasinya? Seakan ada dinding transparan yang melindungi diri mereka dari membeberkan bebannya atau hambatan yang mungkin tengah menjadi beban pikirannya.

Terkadang, individu tersebut benar-benar tengah berperang sengit dalam aspek emosi, tetapi lebih memilih untuk menutupinya dari pandangan publik karena beberapa motif personal. Bisa jadi mereka menginginkan tampil sebagai pribadi yang tangguh atau enggan memberi beban kepada orang di sekitar soal kesulitan yang dialami.

Menurut Geediting.com pada hari Senin (21/4), psikologi mengatakan bahwa terdapat berbagai tingkah laku biasa yang kerap kali dilakukan orang-orang semacam itu.


1. Menghindari Pembicaraan Mendalam

Salah satu indikasi yang mudah dikenali adalah kebiasaan mereka berusaha mengubah arah pembicaraan saat diskusi semakin mendekati masalah personal atau emosi. Mereka cenderung merasa tak nyaman ketika harus menyingkap rahasia hati, jadi lebih suka menyelenggarakan konversasi pada tingkat permukaan dengan topik-topik sederhana dan ringan.


2. Tetap Menyuguhkan Senyum

Walaupun perasaannya mungkin bersedih atau hancur di dalam, mereka berjuang ekstra untuk memperlihatkan gambaran diri yang bahagia dan tangguh pada tiap momen. Sering kali senyum lebar serta gelak tawanya digunakan sebagai benteng untuk menyamarkan fakta bahwa sesunggunya mereka tengah merasakan hal-hal buruk didalam jiwa mereka.


3. Meremehkan Masalah Sendiri

Saat dibicarakan soal hambatan atau tantangan kehidupan yang dijumpai, mereka lebih memilih untuk meremehkan atau menyederhanakannya. Bisa jadi mereka akan menjawab “Ini tidak seberapa lho”, meski sesungguhnya bebannya cukup memberatkan baginya secara personal.


4. Terlalu Menekankan Bantuan Kepada Yang Lain

Sebaliknya dari menyongsong tantangan pribadi, mereka malah membuang tenaga ekstra untuk mendukung penyelesaian situasi sulit orang-orang di sekeliling mereka. Perhatian terhadap kesusahan orang lain ternyata menjadi metode halus bagi mereka untuk meredam atau melupakan rasa sakit yang tengah dirasakan dalam dirinya.


5. Sangat Susah Untuk Mengajukan Pertolongan

Terdapat perasaan malas atau ketakutan yang kuat untuk mengakuinya saat mereka butuh dukungan atau pertolongan dari pihak lain ketika sedang menghadapi masalah. Mereka percaya diri mampu menuntaskan segalanya secara mandiri dan permohonan bantuan dilihat sebagai indikasi kekurangan yang sebaiknya tidak ditunjukkan.


6. Mengindikasikan Perubahan Halus pada Rutinitas

Walaupun mencoba untuk tetap tampak biasa, kadang-kadang timbul variasi halus pada kebiasaan tidur, pola makannya, atau level energi harian yang mungkin tidak disadar oleh orang umumnya. Variasi tersebut dapat menjadi petunjuk fisik tentang beban emosi yang tengah mereka rasakan secara pribadi dan belum diketahui banyak orang.


7. Memanfaatkan Humor sebagai Sarana Pengalihan

Pada kondisi yang mestinya serius dan memerlukan ungkapan kebenaran emosi, mereka cenderung menyisipkan gurauan atau kritik ringan. Mereka menggunakan humor sebagai bentuk perlindungan diri untuk menghindari pemaparan ketidakberdayaan atau pengakuan terhadap perasaan tak nyaman yang tengah dijalani.

Mengenali ciri-ciri tersebut memberikan peringatan bahwa ungkapan “Saya baik-baik saja” tidak selalu merefleksikan emosi internal seseorang. Terkadang diperlukan sensitivitas ekstra agar dapat memahami di balik perkataan verbal dan menyadari petunjuk lain yang bisa menandakan bahwa individu itu tengah berkelahi dengan tantangan pribadi mereka sendiri tanpa suara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *