Ru’Aty Amin : Gizi Buruk Dominan Diakibatkan Pernikahan Usia Dini

Masohi,seputarmaluku.com- Kondisi Kesehatan yang menurun pada balita dan akan-anak secara drastis yang diikuti dengan terjadinya penurunan berat badan yang sangat cepat, disinyalir disebabkan oleh faktor ketidak pahaman tentang pentingnya mengatur jarak kelahiran bayi.

Faktanya, kondisi gizi buruk lebih banyak menimpa bayi dan balita dari keluarga yang menikah pada usia dini. Dan, ini diakibatkan minimnya pengetahuan tentang jarak kelahiran anak yang baik.

Pandangan ini disampaikan Ketua TP-PKK Malteng Tuasikal Amien Ru’aty menyimpulkan kasus gizi buruk yang terjadi di Kecamatan Telutih beberapa waktu lalu.

” Ibu dari anak penderita gizi buruk baru berusia 19 tahun.  Di usia ini sang ibu sudah memiliki 3 orang anak dengan jarak kelahiran yang sangat dekat yakni hanya setahun. Ada pula yang sudah memiliki anak lebih dari empat padahal usia ibu baru 20 tahun. Kondisi ini mengakibatkan sang ibu tidak memiliki waktu yang cukup untuk merawat anaknya,” tutur Ru’aty.

“Diduga kuat, inilah yang memicu terjadinya kasus gizi buruk pada anak, bayi dan balita. Sebab, kondisi alam pulau seram secara umum relatif sangat baik. Ketersediaan bahan pangan mencukupi, air bersih maupun transportasi juga terjamin. Fasilitas kesehatan setingkat Puskesmas Pembantu juga tersedua,” jelasnya.

Menyikapi fakta dari kondisi yang terjadi, Ruaty menyebut, peran Program Keluarga Berencana sangat diharapkan bisa berperan maksimal.

“Pengetahuan tentang pentingnya menunda kehamilan dan mengatur jarak kelahiran bayi harus secara kontinyu disampaikan dan mampu menyasar semua kalangan rumah tangga,” tandasnya.

Aparatur Desa atau Negeri juga harua memberikan perhatian khusus terhadap pengelolaan Puskesmas Pembantu atau  Puskesdes. Yakni tentang penyediaan  kader posyandu.

Ini penting katanya, sebab, kenyataan yang didapati di tingkat desa, umumnya pelayanan kesehatan terkendala persoalan  minimnya kader.

“Kalau menyangkut penganggaran honor kader posyandu,  seharusnya, bisa dianggarkan melalui  dana desa. Ini penting agar kader posyandu dapat bekerja ekstra dan memastikan setiap balita yg ada harus datang dan ditimbang setiap bulannya di posyandu.

Pun, bila tidak datang, bisa segera dilacak keberadaannya,” tandasnya.

Dari segi penanganan terhadap perkembangan dan pertumbuhan balita, bila dalam dua bulan berturut turut ditemukan kasus bayi dan balita tidak naik berat badannya, dapat  segera di intervensi dengan PMT,” sentilnya.

Intinya, dikatakan,  kasus gizi buruk  maupun kasus kesehatan lainnya dapat diatasi bila ada Kerja sama yang baik antara aparatur desa dengan masyarakat dan tenaga kesehatan.

“Dengan demikian, kasus-kasus gizi buruk dan persoalan pelayanan kesehatan dasar bagi bayi dan balita dapat diatasi,” pungkasnya. (SM-01)

author