Tak Ada Lahan cetak Sawah, Warga Transmigran Besi Ancam Kembali ke Daerah Asal

Masohi,seputarmaluku.- Warga Transmigrasi UPT Besi yang berasal dari Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur mengancam akan meminta dipulangkan oleh Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah ke daerah asal mereka menyusul belum adanya kepastian pencetakan sawah melalui program pencetakan sawah Dinas Tanaman Pangan dan Hortuikultura Kabupaten Maluku Tengah.

Dalam rapat dengan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura saat itu menjanjikan akan mencetak sawah seluas 320 Hektar. Tapi belakangan hanya akan direalisasikan seluas 32 H saja.

“Jika kami tidak mendapatkan sawah sebagaimana yang dijanjikan dalam rapat yakni seluas 300 H, maka kami meminta pemerintah kembalikan kami ke daerah asal secara wajar,” desak warga transmigrasi melalui pernyataan sikap yang disampaikan di kantor Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Malteng, Sabtu (8/7).

Pada prinsipnya, desakan pencetakan sawah adalah wajar karena merupakan hak selaku warga transmigrasi, dan pencetakan sawah harus dilakukan oleh pemerintah sesuai kesepakatan dimana mereka ditempatkan.

“Pencetakan sawah dilakukan pada lahan Usaha II milik masing-masing warga transmigrasi,” kata Warga.

Pernyataan sikap warga disampaikan kepada Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja. Sesuai rencana, peryataan sikap warga juga akan disampaikan juga kepada Gubernur Maluku dan Pangdam XVI Pattimura.

“Kita akan menyampaikan langsung pernyataan sikap ini kepada Gubernur dan Pangdam XVI Pattimura,” tegas Muhamad Seh Malikor, koordinator transmigran.

Desakan pencetakan sawah ini dipastikan akan terbentur persoalan status lahan dengan Pemerintah Negeri Huaulu. Bahkan upaya sebaliknya ditempuh elemen masyarakat Huaulu, dimana hanya 32 H lahan dari total 320 H yang akan dicetak pada lokasi lahan transmigrasi Besi.

“Kalau mau cetak sawah silahkan tapi hanya 32 Hektar. Tidak boleh dilakukan di lahan sagu pusaka negeri Huaulu,” tegas Penjabat KPN Huaulu, Rifai Puraratuhu beberapa waktu lalu.

Persoalan pencetakan sawah di lahan transmigrasi Besi dipastikan memicu banyak persoalan lain. Misalnya, soal luasan lahan, kenapa luasannya mencapai 320 padahal jumlah warga transmigrasi hanya 300. Yang menjadi pertanyaan, mengapapersoalan luasan lahan ini baru dipermasalahkan sekarang, padahal warga transmigrasi sudah menempati lahan tersebut sejak 2010 lalu.

Diluar soal teknis menyangkut lahan transmigrasi maupun khusus lahan lokasi pencetakan sawah, pemulangan warga transmigrasi ke lokasi asal bukanlah persoalan sepele. Ganti rugi bagi warga transmigrasi mencakup kerugian karena tidak dapat mengusahakan sawah sejak ada di lokasi transmigrasi Besi. Apalagi umumnya warga trans sudah tidak memiliki rumah dan mata pencaharian di lokasi asal mereka,“tegas warga transmigrasi Besi asal Jawa Timur, Sutamat. (SP-02)

 

author