Patisahusiwa Apresiasi Program Perlindungan Anak Melalui Dana Desa

Masohi,Seputarmaluku- Kepala Kecamatan Saparua Timur Khalid Pattisahusiwa turut mengapresiasi program perlindungan anak  yang diakomodir dalam anggaran Dana Desa tahun 2017. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Kita berharap akan muncul generasi-generasi penerus bangsa yang mempunyai kualitas terbaik,. Mewujudkannya, salah satunya dengan disetujuinya penganggaran program perlindungan anak melalui Dana Desa,” ungkap Camat Khalid Pattisahusiwa.
Dikatakan, dengan adanya anggaran perlindungan anak, maka penanganan terhadap anak-anak korban tindak kekerasan dapat dilakukan secara optimal. “Lebih dari itu, sebenarnya tujuan utamanya adalah bagaimana menghindarkan anak-anak dari perilaku kekerasan oleh orang dewasa. Baik kekerasan fisik,” sebutnya.
Ia berharap, keinginan mendapat respon dari pemerintah Daerah Melalui  badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Negeri dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak.
“mudah-mudahan usulan melalui RAPB-Des bisa diakomodir,” harapnya.

Sebelumnya, Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Pemberdayaan Perempuan (GASIRA) Maluku mengungkapkan data tentang tingginya kasus tindak kekerasan terhadap anak di Maluku. Dan, kasus terbanyak terjadi di Kabupatwn Maluku Tengah.
“Untuk tahun 2015, sebanyak 111 kasus tindak kekerasan terhadap oerempuan dan anak terjadi di Maluku. 50 persennya terjadi di Maluku Tengah. Lebih dari 95 persen merupakan kasus kekerasan seksual, lebih dari 85 persen  pelaku adalah keluarga dekat korban. Mayoritas korban adalah anak-anak,” ungkap Koordinator program pada Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Pemberdayaan Perempuan (GASIRA) Nancy Purmiasa pekan lalu.
Menurut Patisahusiwa,kondisi  ini jangan  dibiarkan begitu saja . Harus ada upaya bersama semua elemen untuk menangkal terjadinya kasus tindak kekerasan. Atau minimal, menekan terjadinya kasus serupa di intern keluarga.
“Dulu ancaman tindak kekerasan dari orang tidak dikenal, saat ini, malah  pelakunya adalah orang terdekat dari korban, diantaranya bapak, om atau saudara kandung, tetangga, teman dekat bahkan orang dalam rumah. Dan, korbannya sebagian besar adalah anak-anak perempuan,” tekannya.
Kepedulian bersama untuk menangkal upaya tindak kekeraaan sangat penting, sebab dampak yang diterima korban  sangat mengkhawatirkan.
“Untuk kasus kekerasan seksual, korban cenderung mengalami perubahan sikap yang memungkinkan mereka melakukan penyimpangan seksual.  Korban mengalami gangguan mental akibat trauma, dan sejumlah dampak lainnya turut berpengaruh pada masa depan mereka kelak,” ujar Purmiasa. (02-SP)

 

author