Bos Toko Liang Masohi Bantah Inkar Janji, Siwabessy Sudah Ambil Uang

Seputarmauku.com, Masohi.- Bos Toko Liang, Andreas Intan alias Kim Fui, membantah kalau dirinya ingkar janji terhadap permasalah tabrakan yang dialami sopir dan mobil dumb trucknya dengan salah satu mobil angkot milik Imanuel Siwabessy di Jembatan Kali Noa, kilo meter 12 Kelurahan Holo, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah beberapa waktu lalu.

Pasalnya, berdasarkan komunikasi serta kesepakatan bersama dengan pihak pemilik Angkot, dimana dalam kesepakatan itu sebagai pihak yang lalai dan mengakibatkan tabrakan terjadi, Kim Fui telah bersedia menanggung seluruh biaya perbaikan angkot milik Siwabessy di bengkel bahkan memberikan biaya tambahan 10 juta kepada Siwabessy.

“Tidak ada yang ikar janji,  kami beritekat baik untuk menyelesaikan perjanjian menyelesaikan perbaikan kerusakan mobil milik Siwabessy. Awalnya apa yang kita bicarakan sudah kita sepakati untuk kita selesaikan, namun siwabessy sendiri yang mengingkarinya.

Padahal, dana awal sebesar sepuluh juta sudah kami berikan, ditambah panjar angkos perbaikan Rp. 8.000.000, dan biaya bahan perbaikan mobil sebesar Rp.  2.471.000, sementara untuk peralata mesin dan lain-lain yang rusak sudah kita beli dan siapkan untuk dipasang sesuai janji dan kesepakatan,  hasilnya tidak berjalan sesuai kesepakatan yang kita bicarakan,” ungkap Kim Fui,  membatah tuduhan yang disampaikan Alfaris pengacara  Imanuel Siwabessy, kepada wartawan Rabu,  19/6/19, di ruang kerjanya di Masohi.

Dirinya menjelakskan awal kejadian kasus ini, mobil dump truck milik perusahan dengan nomor polisi L 8026 UC, dibawa oleh sopir,  namun dalam perjalanan mungkin karena ngantuk, kemudi diambil alih sopir bantu, sampai di jembatan Kali Noa KM 12, mobil menabrak mobil angkot milik Siwabessy dengan nomor polisi DE 1734BU, saat kejadian itu selaku majikan tidak diberitahu kalau mobil menabrak mobil lain.

“Kejadian itu oleh sopir disampaikan kepada Fery Matulessy (Yan), salah satu anggota Polres Malteng, dan kejadian itu kemudian disampaikan kepada saya.  Selanjutnya saya minta tolong kepada Pa Yan untuk mengecek kelokasi kejadian, dan ketemu sama Siwabessy pemilik mobil angkot.

Setelah dikomunikasikan dengan Pa Yan, karena tidak ada korban oleh pemilik angkot sepakat untuk masalah ini diselesaikan secara damai dan kekeluargaan.

Karena atur damai,  kemudian mobil angkot itu dibawaka ke Saya punya bengkel, setelah ketemu dengan Siwabessy sebagai pemilik angkot meminta ganti rugi dengan mobil angkot yang baru, atau membayar 80 juta, namun saya tidak bersedia,” beber Kim Fui.

Sebagai bos diperusahan, Kim Fui juga membicarakan persoalan ini dengan sang sopir truck yang adalah anak buahnya dan sopir truck siap bertanggungjawab jika dirinya harus dijebloskan ke penjara karena memang dirinya sadar kalau peristiwa itu karena kelalaiannya.

Namun Karena berpikir dari sisi kemanuasiaan bagaimana nasib keluarga sang sopir jika dia harus dipenjara, maka Kim Fui mengambil langkah untuk berkomunikasi dengan pihak pemilik angkot.

“Saya mendatangi keluarga Siwabessy pemilik angkot dan bertemu langsung dengan istrinya Siwabessy kemudian saya meminta kalau bisa mobil masuk bengkel nantinya semua kerusakan kita ganti termasuk saya bantu dana 10 juta, semuanya disepakati dan bahkan kesepakatan itu ditutup dengan doa sepakat,” jelasnya

Namun lanjut Bos Kim, keesokan hari dirinya memanggil Pak Yan untuk minta tolong memanggil Siwabessy, setelah dikomunikasi ternyata yang disampaikan kepada Pak Yan bahwa masalah ini sudah dibicarakan dengan keluarga,  dan hasilnya bahwa keluarga Siwabessy memutuskan menolak uang 10 juta dan tawaran perbaikan mobil.

Pihak keluarga Siwabessy menuntut ganti rugi mobil baru atau bawa ke dealer di Ambon. Kalau tidak maka mobil-mobil milik Toko Liang yang melintas di Desa Rumahkai, akan dirusak, tutur Kim mengutip pernyataan Siwabessy.

“Karena permintaanya sangat berat maka saya sampaikan kepada Pa2 Yan untuk masalah ini dibawa ke Polres Malteng untuk diproses hukum, dan kedua mobil itu di bawa ke Polres.  Setelah itu, pihak keluarga Siwabessy ketemu dengan Saya punya anak Stevi untuk menyelesaikan secara kekeluargaan.

Pihak pemilik angkot sendiri yang menyelesaikan di Polres, kemudian mobil keluar dan dibawa ke bengkel Opi untuk diperbaiki. Awalnya bengkel minta harga Rp.  60 juta, namun kita sepakat biaya bengkel sebesar Rp. 15 juta,  dengan kita menyediakan seluruh onderdil yang baru menggantikan yang rusak.

Dengan kesepatan itu, oleh Stevi sudah membeli seluruh onderdil yang rusak dan semuanya sudah ada sejak satu bulan yang lalu,  lengkap dengan nota pembelajaan.

Saya juga sudah panjar biaya perbaikan mobil ke pihak bengkel dan belanja bahan-bahan kebutuhan perbaikan mobil, termasuk Pak Siwabessy juga telah mengambil uang sebesar 10 juta, lengkap dengan kwitansi dan dokumentasi pengambilan.

Sehingga jika dibilang oleh pengacaranya bahwa kita inkar janji maka itu tidakla benar dan dibilang uang sebesar 10 juta itu biaya jaminan kesehatan dikembalikan, itu juga lebih tidak benar karena tidak ada pembicaraan biaya jaminan kesehatan dan uang itu ternyata diambil,” paparnya.

Untuk diketahui,  masalah ini telah diselesaikan di pihak Lantas Polres Malteng,  dengan mengeluarkan surat pernyataan kesepakatan damai dua belah pihak. Dan didalam kesepakatan itu tidak termuat jangka waktu perbaikan mobil pihak korban,  hanya termuat pihak pertama akan memperbaiki mobil di bengkel. (SM-008)

author