Kejari Malteng Belum Berikan “Penghargaan” Pada Sutradara Korupsi Alkes RSUD

Masohi Seputarmaluku. Com- Seperti Cerita Film, Kejaksaan Negeri Maluku Tengah jangan “malu” membuka aib sejumlah pihak yang turut terlibat dalam skandal mega proyek pengadaan Alkes dan KB RSUD Masohi. Karena sudah sepantasnya, aktor-aktor pemeran utama serta sutradara dalam kisah Alkes RSUD Masohi ini menerima “penghargaan” atas peran yang mereka lakoni pada jalan cerita itu.

Dalam cerita kisah pengadaan Alkes ini, yang telah mengatur sampai pada pemenangan tender, mulai dari Dokumen RK-K/L yang berisi rincian nama barang beserta harganya dalam cerita proyek pengadaan Alkes dan KB RSUD Masohi sengaja dibocorkan oleh tiga nama yang sangat berperan dalam cerita Alkes diantaranya sang sutradara serta dua pemeran utama. Sang sutradara yang dimaksud dalam cerita Alkes ini adalah dr. Ursula Surjastuti (KPA), ditambah dua pemeran utama yakni dr. AM Latuamury (PPK) dan Nirwati, SKM (Sekretaris Panitia).

Dari naskah kisah cerita Alkes ini, bocoran dokumen RK-K/L itu sengaja dibocorkan oleh salah satu pemeran utama dalam kisah Alkes kepada Sehguru Tuankotta, SE. Setelah mendapat bocoran itu, Sehguru Tuankota yang awalnya ingin mengikutkan perusahaanya dalam proses tender menjadi terhambat lantaran perusahaanya tidak memiliki kualifikasi pengadaan alat kesehatan, kemudian mengkoordinasikan hal itu kepada Hetty Herdianti.

Sehguru dan Hetty adalah pemeran lain dalam kisah ini, setelah memperoleh bocoran dokumen, Hetty kemudian mencari perusahan yang memiliki kualifikasi untuk pengadaan Alkes, dan terjadilah kontak peminjaman PT Romantika Bahari antara Hetty dengan direktur pusat PT Romantika Bahari di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara yakni Hj. Ani Iqbal. Setelah mendapatkan kesepakatan, Hj Ani Iqbal lantas menghubungi Dirk Thenu sebagai Dirut PT Romantika Bahari Cabang Ambon untuk meminjamkan perusahaan ikut dalam tender proyek pengadaan Alkes.

Dalam tender proyek tersebut diikuti 8 perusahaan dimana PT Romantika Bahari dan 3 perusahaan lain milik Hetty Herdianty, adalah perusahaan yang memiliki dokumen penawaran yang sama dengan daftar satuan harga dan barang dalam dokumen RKA-K/L. Kesamaan dokumen penawaran 4 perusahaan tersebut dengan dokumen RKA-K/L adalah atas bocoran yang sudah diterima Sehguru Tuankota.

Entah siapa yang membocorkannya. Ternyata, yang membocorkan dokumen tersebut kepada Sehguru adalah salah satu dari tiga orang actor, entah itu sang sutradara atau dua pemeran utama tadi. Hal ini sebenarnya sudah diketahui pihak Kejaksaan Negeri Maluku Tengah sebagai lembaga hukum yang memiliki kewenangan untuk memberikan “penghargaan” bagi para bintang yang memiliki peran penting dalam cerita kisah Alkes RSUD Masohi.

Sayangnya, Kejari Malteng terkesan pilih kasih dan hanya setengah memberikan “Penghargaan” karena dari 3 bintang yang mesti mendapat “Penghargaan” itu ternyata hanya 2 yang berhasil meraih “Penghargaan.”

Sementara salah satu oknum yang menjadi sang Sutradara atas suksesnya Film Korupsi Alkes RSUD Masohi ini, tidak diberikan “Penghargaan” sama sekali oleh pihak Kejaksaan, malah sebaliknya, entah kenapa, ada indikasi kalau Pihak Kejari Malteng justeru yang diberikan “hadiah” oleh sang Sutradara karena sudah memberikan “Penghargaan” kepada dua pemeran utama dalam Film Korupsi Alkes RSUD Masohi. (SM-01)

author