Malteng Sarat Indikasi Korupsi, Kinerja Kajari Malteng di Pertanyakan

Masohi, Seputarmaluku.com,-  Tak dapat di sangkal bahwa kota Masohi Kabupaten Maluku Tengah,memang sudah mulai berubah. Begitupun sebaliknya bahwa dari sejumlah kegiatan pembangunan yang di dorong pemerintah guna merubah wajah kota kabupaten tertua di Maluku itu,juga menyimpan “bau” tidak sedap alias adanya indikasi korupsi di dalamnya. Sayang di balik sayang Kejaksaan sebagai institusi penegak hukum tak berani mengusut bau tidak sedap itu. Entah berani atau sengaja tidak mau mengusut sejumlah bau tidak sedap itu,namun faktanya sampai hari ini, jaksa tak pernah bergerak.hanya kasus di luar pemerintahan yang di-usut dan di bongkar institusi pimpinan Robinson Sitorus itu, seperti PNPM GSC di Kecamatan TNS dan Panwaslu Malteng.

Indikasi bau korupsi dari sejumlah kegiatan pembangunan yang di dorong pemerintah guna “memoles” kecantikan kota masohi sejauh ini tak pernah di usut. Sebut saja Pembangunan Tugu Pamahanu-Nusa dan Baileo Soekarno yang di duga kuat sarat dengan indikasi korupsi.namum sayang tak pernah di sentuh jaksa. Tugu Pamahanu-Nusa yang kerap di sebut warga sebagai tugu “tulang ikan” itu di bangun dengan anggaran 1.6 Milyar rupiah,namun tampak tugu itu hanya memenuhi konsep estetika kota masohi.tapi sebaliknya anggaran yang di kucurkan jauh melebihi bangunan yang ada sekarang.

Belum lagi pembangunan Baileo Sukarno yang di lengkapi patung Proklamator RI itu di kabarkan menelan dana lebih dari 24 milyar rupiah, juga memunculkan bau mark up lebih dari 10 milyar rupiah. Terhadap indikasi inipun,jaksa masih terus berdiam diri. Berbagai dugaan korup itu pun mengakibatkan warga Malteng mempertanyakan Kredibilitas Jaksa lebih, lebih Kinerja Kepala Kejaksaan Negeri Maluku Tengah, Robinson Sitorus.

“Patut kita pertanyakan kinerja Kepala Kejaksaan Negeri Maluku Tengah,Pak Robinson Sitorus. Kegiatan projek yang menelan anggaran puluhan miliyar rupiah itu, tentu tidak sebanding dengan bangunan yang ada sekarang.bagaimana mungkin jaksa tidak mencium ketidak beresan itu”Tandas Pemerhati Kasus Korupsi, Rian Idris kepada Media ini, Sabtu (10/1/2018).

Dia meminta Kejati Maluku mengevaluasi Kejari Malteng Robinson Sitorus karena tidak pernah merespons indikasi korupsi bernilai puluhan milyar rupiah dari dua kegiatan projek yang di bangun pada tahun 2016 dan 2017 itu.

“Kajari Malteng ini sudah mesti di evaluasi.masa jaksa tidak mencium ketidak beresan itu.padahal kedua projek yang masih menyimpan bau tidak sedap itu berada di kota Masohi dan bukan di kecamatan”Ujarnya.

Dia menegaskan bahwa sejumlah kasus korupsi di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) mampu di bongkar penyidik Kejari Malteng. Tak jarang pejabat Kepala Dinas di Kabupaten itu tetapkan Jadi tersangka oleh Jaksa.namun bau busuk dari adanya ketidak beresan di jajaran Pemerintahan di Malteng,lebih lebih dari sejumlah kasus projek itu, tak pernah sekalipun di usut Sitorus dan penyidiknya.

“entah ada apa.padahal indikasi korupsi dari dua bangunan itu jauh lebih besar dari kasus kasus korupsi yang di tangani jaksa di SBT atau bahkan Kasus Panwaslu dan PNPM GSC TNS.olehnya Kajati bahkan Jamwas sekalipun harus segera mengevaluasu Kajari Malteng, Robinson Sitorus”Jelasnya.

Dia mengharapkan lemahnya Jaksa tidak diakibatkan adanya kedekatan Kajari Malteng dengan beberapa kontraktor besar di Malteng.bahkan kontraktor itu di duga kuat sebagai pelaksana Projek Projek yang menyimpan bau tidak sedap itu.

“berkawan dengan siapapun itu adalah hak azasi siapapun.namun kalau kemudian hasil dari berkawan itu menimbulkan kolusi,sehingga seolah ada perberian perlindungan atau sebaliknya maka hal ini tidak di benarkan.apalagi semua orang tahu siapa kontraktor yang membangun bangunan bangunan itu.mudah mudahan hal itu tidak demikian.tapi jika benar,maka Kajati harus mencopot Sitorus atau kami sendiri yang akan menyampaikan laporan ke Jamwas di Jakarta.bahkan kami pun siap menyusun laporan dengan data yang kami miliki ke KPK di Jakarta dalam waktu dekat ini,”tukas lulusan Magister Hukum itu.(SM-01)

author